MODEL KONSEP MEDELLEINE LEININGER



MODEL KONSEP MEDELLEINE LEININGER (LAMAN2)
  • konseptual tentang pemberian asuhan transkultural. Konsepnya : “Sunrise Model” dipublikasikan diberbagai buku dan artikel jurnal dan menarik banyak perhatian dari berbagai penjuru dunia
Hal ini menghasilkan dikembangkannya konsep kerangka kerja pemberian asuhan transkultural, Teori Madeline Leininger
  1. Model Keperawatan
  • Pada tahun 1970-an dan awal 1980-an, Mendeline Leininger membuat model ko yang      mengakui adanya perbedaaan (diversitas), dan persamaan (universalitas) dalam pemberian asuhan di budaya yang berbeda.

Konsep Inti Teori Madeline Leininger
  • Asuhan
  • Budaya
  • Asuhan Transkultural
  • Diversitas asuhan kultural
  • Universal Asuhan Kultural

Case Study
  • Nama : Mona Sinaga
  • Kerja : Bapelkes (Badan Pelatihan Kesehatan)
  • Nama Suami : JonathanSimanjuntak
  • Mereka tinggal dirumah orang tua laki-laki.
  • Ekonomi mapan ( lebih dari cukup )
  • Pendidikan : D IV bidan
  • Suku : Batak
  • Agama : Kristen
  • Melahirkan : Kamis, 22 Maret 2007
  • Tempat : Rumah sakit Vinaestetika : 2 hari.

  • Selama hamil, ibu Mona rajin berenang, suka makan buah dan rutin memeriksakan kehamilannya ke dokter kandungan.
  • Dan diprediksi melalui USG anaknya perempuan tetapi masih ada harapan yang besar bagi mereka, bahwa nantinya anak mereka lahir laki-laki. Hal ini disebabkan karena suaminya adalah anak tunggal dan diharapkan sebagai ahli waris nantinya.
  • Melahirkan dengan cara Caesar, karena panggulnya merata. Sebelumnya dokter bilang bahwa dia harus dioperasi, dia menolak karena dia ingin melahirkan anaknya secara normal. Dokterpun menurutinya, setelah beberapa jam ia mengedan kuat-kuat dan berteriak, tidak berhasil juga.
  • Akhirnya dia mau caesar, akan tetapi rasa cemas dan takut terus menghantuinya. Disamping rasa takut tersebut ada juga rasa malu karena bagian perutnya hitam-hitam padahal ia adalah seorang bidan.
  • Setelah operasi selesai, keluarganya datang, tapi mereka kurang puas karena mereka      tidak dapat langsung menggendong sibayi dan suster/ perawatnya kurang memperhatikan bayinya. Lebih dikesalkannya siibu tidak bisa menyusui anaknya karena air susunya tidak bisa keluar.

Pengkajian
  1. Faktor Sosial dan Kekeluargaan
( social and kinship factor )
  • Nyonya Mona sinaga, usia 26 tahun, wanita, status menikah, kehamilan pertama, tinggal bersama orang mertua (orang tua suami), hubungan dengan orang tua/ mertua erat, penggambilan keputusan secara musyawarah.
  1. Faktor Agama dan Falsafah Hidup
  • Agama Kristen protestan, intensitas ibadah selama hamil meningkat. Ibu mona menginginkan anak pertamanya laki-laki karena merupakan penerus marga dalam keluarganya (suku batak) ditambah lagi karena suaminya adalah anak tunggal walaupun berdasarkan hasil USG diprediksi anak mereka perempuan.
  1. Faktor Teknologi
  • Selama hamil ibu mona rutin dalam memeriksakan kandungannya setiap bulan, selama kehamilan, klien pernah USG dan hasil dari USG diprediksikan ibu mona akan melahirkan bayi perempuan. Pada saat melahirkan, ibu mona dioperasi.
  1. Faktor Pendidikan
  • Pendidikan ibu mona adalah D IV bidan, dan suaminya adalah sarjana Ekonomi. Pekerjaan ibu mona dan suami adalah sebagai PNS. Pengetahuan ibu mona mengenai persalinan cukup luas karena profesi beliau adalah bidan.
  1. Faktor Ekonomi (Economical Factor)
  • Klien seorang PNS, biaya persalinan tidak jadi masalah (ditangguna bersama), jumlah anak yang ditanggung tidak ada, selama kehamilan klien dan suami telah mempersiapkan biaya untuk keperluan selama hamiln dan biaya persalinan dengan cara menabung.
  1. Faktor Nilai-nilai budaya dan gaya hidup
  • Dalam keluarga menggunakan bahasa daerah dan bahasa Indonesia,Ibu mona selalu membersihkan diri dan merawat kulitnya dengan lotion. Makan dengan porsi yang besar dan selama kehamilan ibu mona tidak membatasi diet makanannya. Beliau rajin berenang, rajin makan buah (memperhatikan gizi).
  1. Faktor Kebijakan dan Peraturan Rumah Sakit Vina Estetika
  • Waktu melahirkan ibu dibolehkan ditunggui oleh suami, tetapi tidak diizinkan bagi keluarga keruang operasi. Saat bayi sudah lahir, keluarga tidak langsung diizinkan mengendong bayi karena bayi dimasukan keruang bayi untuk mendapatkan perawatan.

Diagnosa Keperawatan
  • Ketidak patuhan klien terhadap prosedur pengobatan yakni proses persalinan. Klien menolak caesar dengan tegas karena klien yang berprofesi sebagai bidan merasa mampu menjalani persalinan secara normal.
  • Gangguan komunikasi verbal berdasarkan perbedaan kultur tidak ada.
  • Tidak ada rasa tabu/ malu dari klien ketika yang membantu persalinan dokter laki-laki.
  • Klien tidak percaya hasil USG, karena latar belakang kulturalnya sebagai suku batak yang sangat menginginkan anak laki-laki.
  • Respon klien yang dilatar belakangi budayanya yakni adanya rasa malu ketika perutnya dibuka.

Perencanaan dan Implementasi Keperawatan
  • Cultural Care Preserventation/ Maintenance

    • Memelihara komunikasi yang sedang terjalin dengan baik (tanpa ada masalah karena budaya) antara klien dengan perawat maupun klien dengan dokter atau klien dengan tenaga kesehatan lain.

  • Cultural Care Accomodation/ Negotiation
    • Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat interaksi dengan klien, mencoba memahami kebudayaan klien sepanjang tidak memperburuk proses intra natal klien.
    • Keluarga klien diketahui ingin melihat bayi dengan segera setelah persalinan, maka perawat memberikan penjelasan kepada keluarga bahwa bayi yang lahir caesar membutuhkan perawatan terlebih dahulu sehingga tidak dapat langsung digendong oleh keluarga klien.
  • Cultural Care Repartening / Reconstruction
    • Memberikan informasi mengenai kondisi klien yang tidak dapat menjalani persalinan secara normal dan harus caesar.
    • Melibatkan keluarga untuk turut serta memberikan pengertian kepada klien bahwa bayi yang akan lahir dengan jenis kelamin laki-laki atau perempuan sama saja.

Evaluasi
  • Ketidakpuasan klien terhadap pelayanan dari rumah sakit tersebut, karena : klien tidak      bisa bertemu langsung dengan bayinya, dan kurangnya pelayanan keperawatan bayi karena bayi kurang diperhatikan.
  • Perawat kurang memperhatikan kebutuhan klien seperti cuek, tidak peduli dengan klien.

Kesimpulan
  • Teori Leininger sangat diperlukan dan membantu dalam praktek keperawatan, serta mendukung dalam pelaksanaan asuhan keperawatan.
  • Dalam pelaksanaan asuhan keperawatan, perawat perlu memahami norma-norma, dan cara hidup budaya dari klien sehingga klien dapat mempertahankan kesejahteraannya, memperbaiki cara hidupnya atau kondisinya.
  • Pemberian informasi mengenai penyakit dan prosedur pengobatan kepada klien/ keluarga klien akan membantu kelancaran pengobatan.
  • dilihat dari kasus, dapat disimpulkan bahwa tim medis khususnya perawat yang ada di rumah sakit tersebut kurang dapat menerapkan konsep teori Leininger dalam pemberian asuhan keperawatan.

Saran
  • Hendaknya ada pemberian informasi yang jelas dari perawat kepada klien, sehingga tidak ada suatu penolakan dari klien dalam pengobatannya.
  • Walaupun klien termasuk orang yang berpendidikan dalam medis, hendaknya klien menerima anjuran yang diberikan dokter yang menanganinya.
  • Seharusnya perawat lebih memperhatikan kebutuhan klien.

    posted  from:
    30/04/2012
    by:
    Agungboyband.blogspot.com
    penerbit:
    buku,jakarta,fundamental jilid 2

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar